8 Komplikasi Hipertensi Yang Harus Diwaspadai

Hipertensi pada umumnya tidak bisa dirasakan dan tidak juga menimbulkan gejala berarti. Makanya banyak orang yang seringnya tidak menyadari kalau mereka punya darah tinggi, atau buruknya malah menyepelekan kondisi ini “Kalau sudah sakit saja, baru nanti ke dokter”. Padahal, tekanan darah tinggi yang dibiarkan atau tidak dirawat dengan baik dapat berdampak serius bagi kesehatan tubuh. Bahkan bukanya tidak mungkin dapat berujung kematian. Apa saja komplikasi hipertensi yang mungkin terjadi ?

Tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg. Jika lebih dari angka ini, maka seseorang dikatakan berisiko mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hipertensi terjadi jika tekanan darah seseorang sudah mencapai 140/90 mmHg saat diperiksa beberapa kali.

Jika tekanan darah tinggi dibiarkan begitu saja, ini bisa merusak pembuluh darah dan organ dalam tubuh dan bisa menyebabkan komplikasi hipertensi. Dilansir dari Mayo Clinic, beberapa komplikasi hipertensi yang bisa terjadi adalah :

Serangan jantung

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pengerasan dan penebalan arteri dinding pembuluh darah arteri. Ini disebut dengan aterosklerosis. Aterosklerosis menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, sehingga jantung tidak mendapatkan cukup oksigen. Akibatnya, anda bisa terkena serangan jantung. Gejala peringatan serangan jantung yang paling umum adalah nyeri dada dan sesak napas.

Stroke

Stroke bisa terjadi saat aliran darah kaya oksigen ke sebagian area otak terganggu, misalnya karena ada sumbatan atau ada pembuluh darah yang pecah. Penyumbatan ini terjadi karena adanya aterosklerosis dalam pembuluh darah. Pada orang yang punya hipertensi, stroke mungkin terjadi ketika tekanan darah terlalu tinggi sehingga pembuluh darah salah satu otak pecah. Gejala Stroke meliputi kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, tangan , dan kaki, kesulitan berbicara, dan kesulitan melihat.

Aneurisma

Tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan salah satu bagian pembuluh darah melemah dan menonjol seperti balon, membentuk aneurisma. Aneurisma biasanya tidak menyebabkan tanda atau gejala selama bertahun-tahun. Namun, jika aneurisma terus membesar dan akhirnya pecah, ini bisa mengancam nyawa.

Gagal ginjal

Gagal ginjal banyak terjadi karena hipertensi. “Berdasarkan dari Indonesia Renal Registry (IRL) tahun 2013, penyebab utama kasus gagal ginjal di indonesia ternyata adalah penyakit hipertensi, beda dengan kasus gagal ginjal di dunia yang faktor utamanya adalah diabetes”, ujar dr. Tunggul D. Situmorang, Sp. PD-KGH. Selain itu, tingginya tekanan darah dapat mengakibat pembuluh darah dalam ginjal tertekan dan mengakibatkan pembuluh rusak. Hipertensi menghambat proses penyaringan dalam ginjal untuk bekerja dengan baik. Kondisi ini merusak ginjal. Akibatnya fungsi ginjal menurun hingga akhirnya mengalami gagal ginjal.

Demensia

Selain jantung dan ginjal, hipertensi juga merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya demensia vaskuler pada pasien. “Demesia disebabkan oleh banyak faktor. Selain faktor yang tidak dapat dimodifikasi seperti genetik, usia, dan jenis kelamin, ada pula faktor yang dapat dimodifikasi seperti gaya hidup, merokok serta penyakit-penyakit seperti hipertensi dan diabetes melitus”.

Masalah mata

Tak hanya bisa memengaruhi pembuluh darah di ginjal, tekanan darah tinggi juga bisa memengaruhi pembuluh darah di mata. Pembuluh darah di mata juga bisa menyempit dan menebal akibat tekanan darah tinggi. Pembuluh darah kemudian bisa pecah dan mengakibatkan kerusakan mata, mulai dari penglihatan kabur sampai kebutaan.

Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan dari kelainan metabolisme dalam tubuh. Salah satu faktor risikonya adalah tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi yang dibarengi dengan kondisi kadar gula darah tinggi, kadar kolesterol tinggi (kadar kolesterol baik rendah dan kadar trigliserida tinggi), dan lingkar pinggang besar didiagnosis sebagai sindrom metabolik.

Kesulitan dalam mengingat dan fokus

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan perubahan kognitif. Anda mungkin akan mengalami masalah dalam berpikir, mengingat, dan belajar. Tanda-tandanya seperti kesulitan dalam menemukan kata-kata saat berbicara dan kehilangan fokus saat dalam pembicaraan.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.